Dalam Salju 31 Desember

No comments :
Syair-ku hangat dalam harapan
Mimpi, doa, dan, rindu
Semoga demikian dengan syair-mu,

DBLN, 23.57-311209

Jika Desember Adalah Akhir

No comments :
Ku 'nikmati' lagi dirimu
Membaca dalam kata, khusus pada bulan-bulan
Dimana kita bisa dapat menikmati rasa;
Rasaku pada Mei yang terungkap, dan tak segan
Tertulis jelas, yang seharusnya kau paling tidak;
Tidak menoreh luka yang memerihkan

"Harusnya tak nyata ini berakhir..."

Kataku pada puisi tentangmu, yang asyik
Mencumbui jari-jariku untuk tetap dan lagi
Melukis keinginan dan harapanku pada tiap bulan
Yang berjalan dalam waktu,

Namun, hingga winter menyapa desember
Puisiku masih saja bercinta dengan mimpi,

DBLN, 18.01-241209

Diakah Gadismu?

No comments :
Jalan setapak dan tak berujung itu belum usai ku tapaki
Setapak itu terlalu kecil untuk ku jalani, belum lagi gulita yang
Tanpa sinar sebagai petunjuk tiada kudapat,


Derita nikmat rindu yang terasa
Serasa membawa setapak tanpa terang menjadi berlimpah sinar
Dan setapak kecil nan panjang berganti luas dan singkat
Namun, tidak hingga dia datang memberi mimpi buruk dalam tidurku

Diakah gadismu?

Duhai tuan,
Jika rasa ini tak terpaut dalam rasamu
Mengapa jua ku tertatih sendiri seakan hati ini di nanti?

Inikah jawabanNYA atas doaku?

"Tuhan, jika hati ini memang untuknya,
Maka dekatklah ia padaku, namun jika tidak
redamlah rasa ini sesakit apapun"



DBLN, 21.42-171209

Pacarku

No comments :
Pacarku termenung merana
Dalam derita hati sendiri
Hampiri bulan mencoba menyapa
Sayang sinar tak mau berteman

Pacarku asyik berhitung jari
Untuk hari yang selalu sepi
Sampai rindu menjemput mati
Tak jua sang hati mencair

Pacarku bersembab pilu
Dalam air mata keangkuhan rembulan
Yang tak bersinar karena memang,
Berkabut awan

Pacarku sibuk bercengkrama
Dalam fatamorgana impian
Yang tak nyata dalam genggaman,

DBLN, 22.57-121209

Dear Desember,

No comments :
"Di ujung rindu untuk kembali ke rumahmu...."


Akhirnya, 
Kelabu pekat itu menghampiri lagi 
Kepada sejuta rasa dingin yang menikam 
Juga kehangatan di dalamnya,


Ah, 
Tak terasa 
Summerku telah usai 

Dan membawa winterku 
Yang tetap sama 
Dan yang adalah  
Kau,



DBLN, 21.53-061209

Titik

No comments :
Titik,
Aku telah sampai
Pada derajat O
Bekunya neraka.......

DBLN, 23.06-301109

Sultan-Ku

1 comment :
Lalu lalang
Aku berlalu dan menghampiri
Tak jua kudengar sultan inspirasiku
Sekedarpun berbisik

Karena terpaku dengan kodrat
Ku biarkan diam dan angkuh
Bertahta cantik diantara
Rindu yang menyesakkan kalbu

Tak mengapalah sultanku
Toh, aku bisa mencumbumu dalam syair,

DBLN, 16.50-181109

Duh Gusti Allah....

3 comments :
Duh Gusti Allah,
Andai saja aku mampu memecahkan ini
Andai saja aku tidak terpaku mati karenanya
Andai saja KAU cukup berperasaan sedikit padaku
Andai saja KAU beri aku rumus untuk membagi persen
Andai saja....

Seribu andai saja kutanyakan padaMU
Namun satu ku pinta terkabul demi sakit yang luar biasa

Duh Gusti Allah,
Aku bersujud dan menyerah padaMU
KAU telah menamparku dengan rumus tak terhinggaMU

Aku menyerah, aku menyerah, aku menyerah ......


DBLN, 23.39-161109

P.S Puisi ini agak mirip temanya sama 'Mbak Fanny' dan hampir di terbitkan di hari yang sama (kemarin) tanpa di rencanakan ;).

Membaca-mu

5 comments :
Mencumbumu dalam syair
Membuatku tersenyum dalam kebahagiaan nyata
Seperti saat ini,
Menyentuhmu dalam kata demi kata
Yang tak terencana dan tak ter-edit

Kau tahu bagaimana
Aku bisa menikmati kemesraan ini?

Karena dengan membacamu
Kau telah hadir menghampiri sepiku,

DBLN, 23.52-161109

A P I

6 comments :
Baiklah,
ku tulis ini
Daripada hatiku panas
Terbakar api cemburu

Ku singkirkan dulu
Kertas-kertas ini
Ku hela napas dulu
Sebelum ku maki kau
Dalam puisi setiaku

Aku benci,
Benci dirimu saat menyapanya
Aku benci,
Benci dirimu karena tidak menyapaku

Huh,
Merana dalam hati sendiri
Sungguh menyakitkan,

Kau tahu itu?!


DBLN, 20.53-151109

Hey Kau

3 comments :
Gairahku menyala saat kumulai
Untuk menulis deretan syair lagi
Tentangmu,

Seperti tak bosan
Dan tak mati hidupku, menyadari bahwa
Kau ada,

Ada dalam setiap pandangan tak nyataku
Dan ada pada setiap diam-ku

Dalam deretan kata ini
Rinduku tersampaikan
Dalam deretan kata ini
Cintaku tersampaikan
Dalam deretan kata ini
Segala keinginanku tentangmu
tersampaikan,

Kau,
Yang terdiam dalam penafsiran
Ku sampaikan cinta yang tak berkesudahan ini....

Cinta yang tak kau percaya
Dan cinta yang ku yakinkan

Menyedihkan, kau pikir?
Tentu untukmu,
Dan tidak untukku.....

DBLN, 22.59-141109

Sejauh Nil Mengalir.........

2 comments :
Sejauh Nil mengalir,
Ada mimpi yang dirajut
Untukmu......

Sejauh Nil mengalir,
Ada harapan yang tersimpan
Untukmu.......

Sejauh Nil mengalir,
Mungkinkah mimpi dan harapan
Adalah untukku?

DBLN, 09.06-131109

Syair Untuk Lilin

5 comments :
Jika bukan karena sayang
Tak mungkin ku selipkan
Kata rahasia malam ini padamu

Juga,
Tak mungkin kusisakan waktu
Diantara tumpukan kertas yang menjengkelkanku
Untuk menciptakan deretan syair ini

Meski terkadang aku
Harus berhenti dalam beban
Namun tatih langkahku tetap terseret
Bersama harapan; Jika suatu hari aku mengerti-mu

Biarlah esok pagi atau lusa
Kita membeku dalam ego tak terkalahkan

Namun malam ini,
Rindu dan doaku menyertai
Seribu mimpi dan harapanmu

"Breithe Mhaith Aga......"

DBLN, 17.28-101109

Soneta # 3

No comments :
Imaginasi terindah
Pada si buruk rupa nyata
Sungguh menyedihkan!

Lantangku padamu

Namun di antara yang terburuk
Dari rupamu adalah
Hatimu!


DBLN, 20.31-091109

Soneta II

No comments :
Denting nadapun mengalir
Dalam satu,
Bernama phenomena
Hingga tercipta 'wujud'mu

Denting-pun membawa
Tak terhitung dera
Yang ku-menyebutnya
'Keindahan'
..................

DBLN, 19.34-081109

Ku Bilang....

4 comments :
Bang,
Hari yang lalu sudah ku bilang
Sebelumnya yang lalupun sudah ku bilang
Mengapa hari ini masih saja harus ku bilang
Tak bosan kah kau mendengar 'sudah ku bilang?'

DBLN, 23.31-061109

Soneta 1

3 comments :
Syair menjadi janji
Dalam abadi kematian asa
Yang berujung tepi
Dalam fatamorgana sebuah impian

Hingga saat terbangun
Syair masih bernyanyi
Pada cinta tak berwajah
Dan rasa tak ber-ego

........

DBLN, 00.25-171009


Senja Ada

No comments :
Sejak itulah sebuah lembaran kisah
Yang tertulis karena kita- aku dan kau, menciptakannya
Yang hanya menjadi bagian-bagian jamur
Dalam kisah-kisah kuis, Yang -ku, dan kau
Menjalinnya dalam 

Phenomena....?



Benarkah?


Untuk akhirnya, Kau-aku, tak sadar
Itu tlah menjamur menjadi racun
Yang tak terkendali masuk dalam setiap

Kalimat yang tak rasa tertumpah dalam bait
Dan menjadi pertanyaan dalam jawaban pertanyaan


Kau-aku, Aku-Kau,
Tak ada yang memulai
Dan mengakhirinya, 

Karena kita,
Sang pembuat TANYA
Tanpa jawaban berkeinginan
Untuk JUJUR,


DBLN, 13.52-061009


Belenggu

10 comments :
Jika kau biarkan
Aku dalam mimpi
Maka siksa yang,
'Kan merejam dalam
Setiap detik terlewat

Dan nadi yang berdenyut
Kan menikmatinya, hingga
Pedih bukan lagi sebuah perih

Tahukah kau,
Mengapa ku mampu tidur terlelap dalam mimpi-mimpi itu?

Karena kau ada,
Dalam setiap imaginasi terindah
Dan nyata yang terluka

DBLN, 14.11-070909

Merah Darah-Ku, Putih Tulang-Ku

1 comment :
Dalam gempita sorak perjuangan yang masih menggema,

Mungkin keserakahann telah membutakanmu
Hingga mata tak lagi bisa melihat
Milikku atau milikmu,

Bunga Rafflesia yang tumbuh ditamanku
Terlepas secara paksa, karena kau tak bisa
Lagi menahan gejolak nafsu angkara setan yang
Membara dalam hati, pikiran, dan dadamu

Aku masih berdiri disini
Di taman yang telah kehilangan salah satu penghuninya

Tak apalah,
Masih banyak bunga lain yang harus kujaga dan kurawat

Nyatanya, kau masih tak puas
Ingin memiliki pakaianku
Dan kau merampasnya begitu saja

Kedinginankah aku atas pakaian yang kau rampas?

Tentu saja tidak,
Karena akulah pembuat pakaian dari pakaian yang ada
Di muka bumi ini,

Terus dan terus,
Hingga kini kau masih saja tak puas

Mengapa?

Banggakah dirimu dengan menghiasi diri
Atas milik orang lain?,

Jika serumpun adalah alasanmu
Maka satukanlah namamu dalam namaku

Jika bermimpi menjadi lebih atas diriku adalah alasanmu

maka ambilah itu wahai saudaraku,

DBLN, 11.31-020909

Mentari Di Ufuk Timur

4 comments :
Kau,
Jingga yang tak pudar
Saat mentari tak selamanya menemani hari

Di sini,
Masih menulis tentangmu
Dalam syair mati yang abadi

Dan kau,
Masih menemaniku
Menciptakan ini,

DBLN, 18.33-240809

P E S O N A

No comments :
Masih ku tulis
Deretan syair tanpa makna
Yang membuatku muak,
Dan tentunya kaupun menjadi muntah
Karena,

Ketidaktahuan....

Atas apa yang kita rasa dan beri

Dan terbaring disini menikmati
Sejuta,

Yang kau dan aku pikir
Memang begitulah jalan takdir hidup

Dan aku hanya bisa memakimu
Dengan prosa-prosa yang kuciptakan
Tanpa perdebatan, tanpa selisih hati

Jari-jariku lagi,
Menjadi teman tafakur diantara diam

Hingga DIA mungkin,
Bisa memberiku satu saja
Jawaban,

DBLN, 12.08-210809

N E S T A P A

10 comments :
Inspirasi yang tak berwujud
Hati yang tertutup
Jujur yang tak terkuak

Kabut sahabat setia
Kesendirian selimut malam

Semoga lelap kau
Tertidur dalam airmata

DBLN, 19.30-080809

Antara Kita

13 comments :
Jika jarak
Adalah sebuah penghalang
Pantang ku hentikan langkah menujumu

Jika cerita buruk
Adalah sebuah trauma
Pantang ku jalin kisah derita untukmu

Jika harta
Adalah sebuah risau
Pantang kuhitung rugi untung padamu

Jika kesetiaan
Adalah sebuah pertanyaan
Pantang kau ragukan itu padaku

Jika cantik
adalah sebuah ukuran
Pantang ku ukur kecantikanku
Dengan kebodohanmu........

DBLN, 21.36-190709

Sampan Berlabuh

35 comments :
Lajur pantai memberimu jejak-jejak
Pada buih-buih air laut yang memberi
Nyanyian hampa kepadamu,

Dasa terendap oleh karam kecewa
Lupa pada sampan yang tlah berlumut
Teringat hanya kepada luka yang tertoreh

Kaupun menjadi
Patung hati yang tak bergeming
Sampan hiasan bagi laut tak bernyanyi
Buih pantai yang tak lembut
Karang curam yang bertebing dan melukai

Pipit kecil terkapar, lelah tak berdaya menantang egomu...

DBLN 19.18-120609

G u G u R

23 comments :
:"Mengapa kau hempaskan mawar yang memberimu wewangian?"

Tak terasa
Helai mawar tlah berubah
Warna merah menjadi
Cokelat tua,

Daun hijau menjadi hitam
Layu tak berseri

Hey,
Tlah lupakah kau memberiku air?
Tlah habiskan pupukmu untukku?

Ah,
Tentu saja kau lupa
Atau tak perduli?

Mengapa?

:"Tidakkah duriku tlah kucampakan pada negri tak bertuan?"

Jika terlambat menjadi sesal
Maka, kumaafkan kau
Bersama gugurnya
Helai bungaku, helai daunku
dan,
Setiap helai akar yang pernah kau hidupkan

DBLN, 22.30-040509

CintaKu Jauh Di Pulau

28 comments :
Kepada Sultan,

Pagi mentari menghampiri
Datang menyapa keharibaanmu
Menyelusup pada tiap relung

Hatimu yang tertutup bias nestapa
Jiwamu yang terendap pada kebekuan

Laramu padamkan cahaya
Yang tulus ingin menerangi
Setiap sudut gelap dalam ruangmu

:"Kenapa, bagaimana mungkin?" kata angkuhmu

Duh Sultan,
kenapa tak kau biarkan sinar mentari
Menghangatkanmu?

DBLN, 10.16-180509

Kepada Tak Bertuah

20 comments :
Syair ini tercipta,

Hati menata setiap cinta
Yang tersembunyi pada
Huruf dan kata

Masih curam untuk kau
Tahu sebuah samudera hati

Tak mungkin kaupun bisa
Menelusurinya

Aku memandangmu Karena DIA
Aku mengagumi karena DIA
DIA menciptakanmu begitu indah
Dengan kesempurnaan tanpa
Ku harus memaknai wujudmu

Indah bukan?

Gempita bersorak penuh irama
Pada jiwaku yang mendamba
Untuk di cinta sang Sultan

Sultanku,
Adakah mimpi yang diberi olehNYA
Membuaiku pada khilaf?

Genggam harapku
Jika kau terkirim memang karnaNYA
Rangkul hangatku
Jika aku untukmu karnaNYA

'Kan kusimpuh jiwa
Pada cinta karna keinginanNYA

:"Dengarlah wahai jiwa yang menyembah..."

Merah Putih Tulang Dan DarahKu (1)

21 comments :
Berkibar dengan gagah
Meskipun renta ditengah

Hutan dan lautan gelora

Kebuasan para pendengki

Pemaki dan pembenci


Gunakan saja merahku

Sebagai topeng diantara

Semangat palsu yang kau kibarkan

Untuk memeras peluh orang-orang

Yang setia kepadaku


Aku akan tetap merah seiring

Dengan darah pahlawan yang
Menorehkan sejarah untukku
Aku akan tetap merah bersama

Cinta yang mengibarkanku


Pakailah merahku
Untuk menutupi intelektual bejadmu wahai tikus-tikus rakus,

Merahku bukanlah cerita hari ini

Merahku bukanlah berkibar tanpa perlawanan

Merahku bukanlah hanya lawan

DBLN, 14.06-290409

BejadMu MoralKu

5 comments :
Senyum tersungging tak manis
Namun mata ini bak menangkap senyum si tampan

Katamu terangkai bagaikan raja hutan

Yang menelanjangimu pada etika norma

Lagi, Engkau merajut gelagat kebejatan

Yang orang anggappun kau memang sibejad
Harusnya kau bisa berpura-pura

Ya, Sedikit setidaknya sebagai sitampan beradab
Atau tidak sedikit untuk aku yang disaji seperti puteri


Lihat mata nalar yang menatapmu jijik
Atau iri?
Karena romantis yang kau pikir manis

Celakanya kau terlukis sempurna, sesempurna pangeran

Datang melempar segelondong benang primitif
Cinta dari negri berantah

Kenapa pula aku menyambutnya?


Ah, kau lagi memang tahu cara hempaskan aku

Pada asmara romantik belantaramu

Yang kulihat seperti onggokkan sampah

Kenapa juga rasaku seperti melayang-layang?


DBLN, 14.58-300109

Marifat Terdamba

9 comments :
Langit membuka jiwa yang terhaus akan khalam
Lapisan 7 membawa ruh pada Sang Maha Dzat
Sementara diri terpekur pada dzikir kesunyian
Terlingkar pada setiap Alif yang tersirat

GetarGetar tasbih entah ribuan terhitung
Keringat memeluh tubuh tak rasakan apa

Akal hilang pada alunan penyebutan Sang Illahi
Rasa mendamba ingin berjumpa yang didamba
Sebab Ruh terasa telah terpisah dengan raganya

Menghamba terucap lirih dihati
Bila saja nampak kebesaranNYA yang TERlalu
Mungkin ruh akan selamanya bertahta bersamaNYA
Tapi takapa, karena itu yang teringinkan dari hamba penghiba


DBLN, 18.46-300109

Karena Engkau

24 comments :
Yang menjadikan aku sebuah nama

Kau sebut aKu Indonesia

Karena katamu aku cantik
Dengan kepulauannya
Aku kaya dengan alamnya

Begitu katamu,
Kalau sedang memanjakanKu

Karena Engkau,

Aku lahir menjadi sebuah tempat
Kaupun terlahir dan tumbuh dalam
Benih-benih serat milikKu

Bersamamu, aku tercipta dan ada

Karena Engkau,
Engkau menjadi bukan si siapa
Untuk Aku Negrimu

Dan beginilah rupa dan warnaKu

Mengapa memaki?
Mengapa membenci?

Inilah aku
Hasil karyamu
Yang jauh dari mimpimu

DBLN, 16.37-200409

TOPENG

16 comments :
Hanya untuk,
Yang bernama KEPALSUAN
Aku dikenakan
Karena aku benci
Menjadi diriku

Aku si cantik
Untuk diriku

Biarkan aku menyatu
Pada dusta
Karena itulah
Diriku yang hakiki

Aku hampa
Tanpa TOPENGku

DBLN, 19.06-090409

Negeri Di Suatu Hari

5 comments :
Kepada kisah bersambung,

Telah tertulis paragraf tentangmu
Pada tiap lembaran kertas basah
Yang dialirkan oleh kebencian dan keserakahan
Dan darah yang mengalir,
Mengental, hingga mengering, lalu
Membeku bersama dasa

Maaf untuk cinta
Tiap sisi 'tlah sesak dengan amarah
Kau asing disini, di tempat ini, dihati ini

Kau bukan sepenggal
Bahkan secuil yang mampu mengerayap
Dalam gempita gelap yang menyekat

:cinta ingin bermimpi

DBLN, 10.40-030309

Bulan Merah Jambu

11 comments :
Sejati,

Tulikan telingamu
Dengar hatimu

Butakan matamu
Baca dengan rasamu

Jangan bertanya
Resapi aku

"Untuk bisa membaca ini.."

DBLN, 23.10-300309

Aku Adalah Cinta

5 comments :
Yang bersemayam damai
Dalam setiap kalbu insan
Yang menginginkanku
Berada dalam hati

Yang kusebut
Sebagai

TULUS

Secaci dan sehina apapun
Terumbar dalam amarah dan dengki
Aku tetaplah

CINTA

Yang tak terusik
Oleh siapa dan apa

Aku bertahta
Pada insan hati yang mendamba
Untuk

BERCINTA

Hanya

Tentang CINTA
Aku akan datang menghampirimu

DBLN, 14.09-270309



S u J u D

1 comment :
Sebelum aku mati,

'Kan kusentuhkan jari-jari ini
Dalam sejadah panjang terbentang
Yang mungkin, atau

Nanti

Akan menjadi penghantar
Sebagai jembatan ke istanaMU

'Kan kutengadahkan tangan
Tuk berharap jika KAU
Masih sudi 'tuk memberi
Sedikit waktu,

Ya, sedikit saja

Dan
Sekali lagi

Untuk waktu
Kembali padaMU

DBLN, 21.57-260309

Ketika Jatuh Cinta

1 comment :
Kepadamu,

Cinta...

Yang tak terucap
Yang tak teraba
Yang tak Teridentitas
Yang tak diketahui

Ini..

Sejuta rasa
Sejuta mimpi
Sejuta asa
Sejuta rindu

Hiba terpendam

Untuk
Yang ternama HATI

DBLN, 22.42-250309

ReSaH

2 comments :
Lewati aku yang memandang
Mu terpana. Kenapa diam?

Ikuti jejak-jejakmu
Yang tak hiraukan
Ku yang ingin
Dan ingin sekali

:Kau rangkul dalam hangat sapamu

"Ssttt"

Ini rahasiaku

DBLN, 16.43-230309

M A Y A

6 comments :
Tangan kekar itu kembali
Menyentuh hangat wajahku
Menyapu airmata yang mengalir
Menghampiri sepi yang menyayat

:lewat pesan terkisah

Bergandeng tangan menyusur
Padang luas tak berbatas

Hiasi kisah dengan kasih terurai
Yang tertulis dengan..??

Jangan pergi
Tolong,

DBLN, 01.02-220309

Yang Terakhir

3 comments :
Pudar bersama mimpi
Tak tercapai dan membeku
Dalam asa yang terbungkam
Diam tersayat pisau Sejati
Yang tak termiliki dan
Tak tersentuh

Mimpipun kembali
Dalam angan yang masih tersimpan
Rapi dalam tatanan...

Entah

Rupanya menghenyakkan lenaan
Yang asyik bercengkrama
Dengan luka

DBLN, 18.55-200309

Sajak UntukMu

3 comments :
Meskipun kau bilang
Sajakku adalah sebuah onggokan
Yang pantas dibuang keselokan

Karena tak pandai aku
Merangkai ungkapan
Yang bisa menyentuh
Hatimu, mungkin....

Baca saja,
Atau tertawalah
Dengan 'sampah-sampah' ini

Apapun itu
Aku coba
Dan sudah
Ungkapi rasaku

Untuk kau tahu
Jika bisa
Bersama dalam
Tawa dan airmata yang jatuh

Hanya itu

DBLN, 19.50-140309

Cinta Butut?

1 comment :
:Biarkan mengalir apa adanya
Kata sang sejati yang mengharap
Atau bermimpi?
Mungkin bermain?

Ya,ya. Tentu saja bermain
Untuk apa bermimpi?

Warna kasihmu sudah pudar
Tertelan terik 'tak-tulus' dalam
Organmu yang berbentuk
Bokong seorang putri cantik
Dari negri mesir

Si Cleopatra!

Betul,betul. Pun kisah kita
Mirip!

Mirip romantisnya
Mirip bohongnya
Mirip bututnya!

Sudah. sudah.
Dan setidaknya aku tak perlu
Membawanya ketempat
Reparasi cinta
Sudah terlalu butut
Mau diapakan lagi??

DBLN, 21.02-110309

Baca Bukan Bicara

2 comments :
Aku libur
Untuk bicara tentang
Resahan, marahan, romantisan, cemburuan
Yang semua orang
Menyatakan

"Setuju!!!!"

Bahagia mereka
Tak lagi dengar 'ocehan'ku
Yang katanya
Pekakan telinga dan saraf otak

Baca, baca, baca!
Kenapa tidak?

DBLN, 12.31-010309

Karena Sakit

2 comments :
Otakmu jadi ikutan sakit
Tuduh aku yang bukanbukan
Menjadikan aku yang tidaktidak

SiBukan dan siTidak
Menciptakan aku sosok sikecil evil
Yang ayu nan manis
Dan tega, katamu

:Cepat sembuh

Doa terkirim. Untuk
Sarafmu yang lagi konslet

DBLN, 15.05-060309

D i a M

2 comments :
Kalau kau jenuh
Sudahi saja
Tak perlu berlanjut
Memaksa diri

:Toh hatimu 'kantercabik sendiri

Iya, tak apa
Aku dan kau
Akan lebih sempurna
Dari sebelum dan
Sesudahnya

DBLN, 12.22-010309

M A A F

2 comments :
Kekasih tak terucap,

Malam bukan lagi milik sang mentari
Namun kau tahu
Bulan masih setia dengan cahayanya

Datang dan perginya ia
Di luar yang bernama keinginan

Kau tahu itu
Dan paham

Bahwa
Semua yang terlahir dan ada
Atas nama alami

Mengapa sakit?
Mengapa bertanya?

Bukan milikmu
Bukan milikku
Ini milikNYA

DBLN, 20.11-280209

Surga Kata

4 comments :
Membacamu
Membawaku pada nirwana
Surga kata penuh warna,
Bunga, dan keharuman memabukkan
Apa yang terasa dan terlihat

Tuliskan lagi
Untukku
Kan kubawa pada mimpi
Abadi sepanjang hati
Masih ingin terus membacamu

DBLN, 22.42-27.0209

Untuk Entah

2 comments :
ketak-ketik
Pikir sana. Pikir sini.
Mondar-mandir

:hingga kursor membawa pada titik neraka

Otakku terpaku!

DBLN, 20.49-260209

Abdi Menyela

1 comment :
Suamiku,

Sudah kumasak makan malammu
Bumbu gurih gelisah kesukaanku
Sudah kuaduk dengan sup cemburuku
Jangan dihabiskan jika kau tak selera

Karena ada menu rindu yang menantimu seharian
Yang biasanya tertelan oleh acuh tak acuhmu

Kalau sudah begitu
Simpan saja dikantong rahasiamu yang paling dalam
Atau selipkan dibalik bantalmu untuk malam ini

Dan aku akan menikmati
Pencuci mulut pada kesepian malammu

DBLN, 21.59-230209

Menyambut Beku

1 comment :
Mari datang merapat. Ku beri kau hangat
Dan bila beruntung kau dapat sebuah hati

Hanya bila kau cukup beruntung ya

Aku tidak janji. Dan jangan menagih
Nanti kau sakit hati sendiri

DBLN, 16.23-220209

Saat Kau Memerah

1 comment :
Harus terdiam biar aku mendengar. Iya kan?
Jangan khawatir aku tak kan sakit hati. Karena memang kau pikir aku tak punya hati

Iya kan?

Suka-sukamulah mau kau apakan hati dan tubuhku ini
Karena engkau "Tuhan"ku.

Begitukan?

Ya begitu katamu.

DBLN, 19.57-210209

Menyapa Malam

1 comment :
Kepada Adi

Gelap yang menyelimuti alam
Digelut oleh kabut yang menyatu
Yang Tuhan menyebutnya sebagai Malam

:Itu penyampai asaku

DBLN, 20.43-200209

Dusta Yang Sempurna

No comments :
Lantang terucap setiap kata yang terumbar
Meski jelas kau rasakan dalam nurani
Bahwa hanya fatamorgana yang kau ciptakan
Lihai lidahmu merangkai kata
Hingga hewan buaspun takluk dengan topengmu

Kaulah Raja dari segala raja kedustaan yang sempurna

Yang hidup dalam setiap helaan napas nafsu sang Iblis
Benci adalah ayat-ayat penghatar katamu yang terurai manis
Sebagai kekuatan kearifan buas jiwamu yang kering keronta

Malang dirimu tersenyum sungging disudut kenestapaan
Menutup sembunyi dirimu pada keangkaraanmu sendiri

Kau memang
Sebuah kesempurnaan dari kedustaan yang pernah tercipta

DBLN, 20.45-190209

Bunda Meminta

No comments :
Selalu saja tidak ada perubahan. Dari dulu hingga kini bunda selalu mengatakan yang sama. Apa yang bunda pikir tentang aku? Anak bodohkah aku?

"Seharusnya kau jangan lakukan itu?" bunda berkata lagi. Entah sudah keberapa kalinya bunda mengatakan itu padaku. Dan entah kenapa akupun mendengarkannya hanya seperti angin pantas. Sudah kudengar ribuan kali. Dan mungkin jutaan kali. Sejak kali aku masih dengan memakai celana dalam saja hingga kini aku memakai pakaian lengkap.

Duh bunda. Kalau aku sedang marah yang ku anggap perkataanmu hanya sebagai sebuah ocehan. Ingin rasanya aku tidak dilahirkan oleh Ibu sepertimu.

Aku marah. Aku menggerutu. Aku memakimu dalam hati.

Tidak terpikir apa maksud perkataanmu.

Kini aku jauh darimu. Jarak membentang luas antara kita. Kau jauh bunda. Aku berteriak bebas. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa harus khawatir kau mengritikku.

Tapi aku salah. Aku sunyi. Aku sendiri. Aku kehilangan tempat berlabuh. Aku hilang.

Aku butuh kau bunda.

Ya. Aku butuh dirimu.

DBLN, 12.26-170209

L e L a H

No comments :
Bisa saja aku pergi. Tanpa rasa yang disebut kemanusiaan. Karena aku lelah. Lelah untuk mengerti setan setan yang rakus berdiskusi hal ihwal yang menyangkut jati diri. Jati diri? Bukan, bukan, jati diri.

Dengar kau bicara lugas bak si raja kusir yang terusir. Membuatku muak. Bisa apa kau selain bicara menghantam lawanmu?

Bisa apa aku pula untuk hentikan kau dari pongahmu yang hampir membuatku muntah. Dan juga seisi bumu ini ingin mengeluarkan yang ada.

Lelahku ucap pada setiap barisan kata yang terucap. Setidaknya kata itu tahu bahwa aku LELAH.

DBLN, 15.11-010209

Riak Kasih

No comments :
Masih saja kata diucap. Tak bosankah kau lelap dalam cerita yang sama? Kau kata luka, kau kata benci. Itu kau ucap tak kala amarah mememenuhi rongga-rongga pembuluh, nadimu, tulangmu, selipan setiap daging dalam tubuhmu. Mengapa masih saja terulang, lagi, dan lagi?

Airmatapun jadi senjata takkala kata habis terucap. Apalah aku bisa jika kau sudah seperti itu? Seekor harimaupun tak akan mampu menelanmu kalau sudah wajahmu tersedu sedan seperti itu. Apalagi aku yang katanya cintamu, belahan jiwamu, kasihmu.

Aih, kenapa pula kita tak nikmati saja senja merah yang mulai turun? Habis sudah waktu terbuang melihatmu bercucuran sakit hati. Katamu itu lho,

Ayolah Dik, hentikan ini. Bosan, bosan, bosan. Aku dan kau bosankah terpikir sekali?

Contact

Name

Email *

Message *

 

. Template by Ipietoon Blogger Template