M A A F

2 comments :
Kekasih tak terucap,

Malam bukan lagi milik sang mentari
Namun kau tahu
Bulan masih setia dengan cahayanya

Datang dan perginya ia
Di luar yang bernama keinginan

Kau tahu itu
Dan paham

Bahwa
Semua yang terlahir dan ada
Atas nama alami

Mengapa sakit?
Mengapa bertanya?

Bukan milikmu
Bukan milikku
Ini milikNYA

DBLN, 20.11-280209

Surga Kata

4 comments :
Membacamu
Membawaku pada nirwana
Surga kata penuh warna,
Bunga, dan keharuman memabukkan
Apa yang terasa dan terlihat

Tuliskan lagi
Untukku
Kan kubawa pada mimpi
Abadi sepanjang hati
Masih ingin terus membacamu

DBLN, 22.42-27.0209

Untuk Entah

2 comments :
ketak-ketik
Pikir sana. Pikir sini.
Mondar-mandir

:hingga kursor membawa pada titik neraka

Otakku terpaku!

DBLN, 20.49-260209

Abdi Menyela

1 comment :
Suamiku,

Sudah kumasak makan malammu
Bumbu gurih gelisah kesukaanku
Sudah kuaduk dengan sup cemburuku
Jangan dihabiskan jika kau tak selera

Karena ada menu rindu yang menantimu seharian
Yang biasanya tertelan oleh acuh tak acuhmu

Kalau sudah begitu
Simpan saja dikantong rahasiamu yang paling dalam
Atau selipkan dibalik bantalmu untuk malam ini

Dan aku akan menikmati
Pencuci mulut pada kesepian malammu

DBLN, 21.59-230209

Menyambut Beku

1 comment :
Mari datang merapat. Ku beri kau hangat
Dan bila beruntung kau dapat sebuah hati

Hanya bila kau cukup beruntung ya

Aku tidak janji. Dan jangan menagih
Nanti kau sakit hati sendiri

DBLN, 16.23-220209

Saat Kau Memerah

1 comment :
Harus terdiam biar aku mendengar. Iya kan?
Jangan khawatir aku tak kan sakit hati. Karena memang kau pikir aku tak punya hati

Iya kan?

Suka-sukamulah mau kau apakan hati dan tubuhku ini
Karena engkau "Tuhan"ku.

Begitukan?

Ya begitu katamu.

DBLN, 19.57-210209

Menyapa Malam

1 comment :
Kepada Adi

Gelap yang menyelimuti alam
Digelut oleh kabut yang menyatu
Yang Tuhan menyebutnya sebagai Malam

:Itu penyampai asaku

DBLN, 20.43-200209

Dusta Yang Sempurna

No comments :
Lantang terucap setiap kata yang terumbar
Meski jelas kau rasakan dalam nurani
Bahwa hanya fatamorgana yang kau ciptakan
Lihai lidahmu merangkai kata
Hingga hewan buaspun takluk dengan topengmu

Kaulah Raja dari segala raja kedustaan yang sempurna

Yang hidup dalam setiap helaan napas nafsu sang Iblis
Benci adalah ayat-ayat penghatar katamu yang terurai manis
Sebagai kekuatan kearifan buas jiwamu yang kering keronta

Malang dirimu tersenyum sungging disudut kenestapaan
Menutup sembunyi dirimu pada keangkaraanmu sendiri

Kau memang
Sebuah kesempurnaan dari kedustaan yang pernah tercipta

DBLN, 20.45-190209

Bunda Meminta

No comments :
Selalu saja tidak ada perubahan. Dari dulu hingga kini bunda selalu mengatakan yang sama. Apa yang bunda pikir tentang aku? Anak bodohkah aku?

"Seharusnya kau jangan lakukan itu?" bunda berkata lagi. Entah sudah keberapa kalinya bunda mengatakan itu padaku. Dan entah kenapa akupun mendengarkannya hanya seperti angin pantas. Sudah kudengar ribuan kali. Dan mungkin jutaan kali. Sejak kali aku masih dengan memakai celana dalam saja hingga kini aku memakai pakaian lengkap.

Duh bunda. Kalau aku sedang marah yang ku anggap perkataanmu hanya sebagai sebuah ocehan. Ingin rasanya aku tidak dilahirkan oleh Ibu sepertimu.

Aku marah. Aku menggerutu. Aku memakimu dalam hati.

Tidak terpikir apa maksud perkataanmu.

Kini aku jauh darimu. Jarak membentang luas antara kita. Kau jauh bunda. Aku berteriak bebas. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa harus khawatir kau mengritikku.

Tapi aku salah. Aku sunyi. Aku sendiri. Aku kehilangan tempat berlabuh. Aku hilang.

Aku butuh kau bunda.

Ya. Aku butuh dirimu.

DBLN, 12.26-170209

L e L a H

No comments :
Bisa saja aku pergi. Tanpa rasa yang disebut kemanusiaan. Karena aku lelah. Lelah untuk mengerti setan setan yang rakus berdiskusi hal ihwal yang menyangkut jati diri. Jati diri? Bukan, bukan, jati diri.

Dengar kau bicara lugas bak si raja kusir yang terusir. Membuatku muak. Bisa apa kau selain bicara menghantam lawanmu?

Bisa apa aku pula untuk hentikan kau dari pongahmu yang hampir membuatku muntah. Dan juga seisi bumu ini ingin mengeluarkan yang ada.

Lelahku ucap pada setiap barisan kata yang terucap. Setidaknya kata itu tahu bahwa aku LELAH.

DBLN, 15.11-010209

Riak Kasih

No comments :
Masih saja kata diucap. Tak bosankah kau lelap dalam cerita yang sama? Kau kata luka, kau kata benci. Itu kau ucap tak kala amarah mememenuhi rongga-rongga pembuluh, nadimu, tulangmu, selipan setiap daging dalam tubuhmu. Mengapa masih saja terulang, lagi, dan lagi?

Airmatapun jadi senjata takkala kata habis terucap. Apalah aku bisa jika kau sudah seperti itu? Seekor harimaupun tak akan mampu menelanmu kalau sudah wajahmu tersedu sedan seperti itu. Apalagi aku yang katanya cintamu, belahan jiwamu, kasihmu.

Aih, kenapa pula kita tak nikmati saja senja merah yang mulai turun? Habis sudah waktu terbuang melihatmu bercucuran sakit hati. Katamu itu lho,

Ayolah Dik, hentikan ini. Bosan, bosan, bosan. Aku dan kau bosankah terpikir sekali?

Contact

Name

Email *

Message *

 

. Template by Ipietoon Blogger Template